Mengapa Sumpah Pemuda dianggap sebagai tonggak bersejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia?

Sumpah Pemuda adalah salah satu momen penting dalam sejarah bangsa Indonesia yang terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928 di Batavia (sekarang Jakarta). Pada saat itu, para pemuda-pemudi dari berbagai daerah, suku, agama, dan organisasi berkumpul dalam Kongres Pemuda Kedua dan menyatakan ikrar sebagai berikut:

“Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”

Ikrar ini merupakan manifestasi dari kesadaran nasional dan semangat persatuan yang tinggi di kalangan pemuda-pemudi Indonesia. Ikrar ini juga menunjukkan tekad untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan kolonial Belanda yang telah berlangsung selama lebih dari tiga abad.

Latar belakang Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses panjang pergerakan nasional yang dimulai sejak awal abad ke-20. Beberapa faktor yang mempengaruhi lahirnya Sumpah Pemuda adalah:

  • Munculnya organisasi-organisasi pemuda yang berorientasi nasionalis, seperti Boedi Oetomo (1908), Jong Java (1918), Jong Sumateranen Bond (1917), Jong Ambon (1918), Jong Minahasa (1918), Jong Celebes (1919), Sekar Rukun (1919), Jong Bataks Bond (1925), dan Jong Betawi (1927). Organisasi-organisasi ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran politik, sosial, budaya, dan ekonomi di kalangan pemuda-pemudi Indonesia.
  • Adanya pengaruh dari gerakan nasional di negara-negara lain, seperti Turki, India, Cina, Jepang, dan Mesir. Gerakan-gerakan ini memberikan inspirasi dan motivasi bagi pemuda-pemudi Indonesia untuk menuntut hak-hak mereka sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.
  • Adanya diskriminasi dan eksploitasi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap rakyat Indonesia. Pemerintah kolonial Belanda menerapkan sistem politik etis yang hanya menguntungkan golongan priyayi dan kaum elite, serta sistem ekonomi tanam paksa yang merugikan petani dan buruh. Pemerintah kolonial Belanda juga melarang rakyat Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang layak, berpartisipasi dalam pemerintahan, dan menyuarakan aspirasi mereka.
  • Adanya keinginan untuk menyatukan berbagai perbedaan yang ada di antara pemuda-pemudi Indonesia. Perbedaan-perbedaan tersebut meliputi asal daerah, suku, agama, bahasa, adat istiadat, dan organisasi. Keinginan ini mendorong para pemuda-pemudi untuk mencari titik temu dan kesamaan yang dapat menjadi dasar persatuan bangsa.

Pelaksanaan Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda dilaksanakan dalam rangka Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB) di Jalan Kramat Raya No. 106, Batavia. Kongres ini dihadiri oleh sekitar 200 orang perwakilan dari 23 organisasi pemuda dari seluruh Nusantara.

Kongres ini dipimpin oleh seorang panitia pusat yang terdiri dari:

  • Ketua: Sugondo Djojopuspito (Jong Java)
  • Wakil Ketua: Mohammad Yamin (Jong Sumateranen Bond)
  • Sekretaris: Johan Mohammad Cai (Jong Ambon)
  • Bendahara: Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)

Kongres ini juga dibantu oleh beberapa panitia kecil yang bertugas untuk menyiapkan berbagai hal, seperti acara, keuangan, propaganda, dan lain-lain. Beberapa nama yang terlibat dalam panitia kecil ini adalah:

  • Mohammad Hatta (Jong Sumateranen Bond)
  • Soegondo Djojopuspito (Jong Java)
  • Soetardjo Kartohadikusumo (Jong Java)
  • Soekarno (PNI)
  • Sartono (PNI)
  • Gatot Mangkupraja (PNI)
  • R.M. Sartono (Jong Java)
  • R.M. Soerachman Tjokroadisoerjo (Jong Java)
  • R.M. Soerjopranoto (Jong Java)
  • R.M. Soetomo (Boedi Oetomo)
  • R.M. Suroso (Boedi Oetomo)
  • R.M. Suryohadiprojo (Boedi Oetomo)
  • R.M. Suryopranoto (Boedi Oetomo)
  • R.M. Suryosumirat (Boedi Oetomo)
  • R.M. Suryokusumo (Boedi Oetomo)
  • R.M. Suryolelono (Boedi Oetomo)
  • R.M. Suryowinoto (Boedi Oetomo)

Kongres ini berlangsung selama dua hari dengan agenda sebagai berikut:

Hari pertama, 27 Oktober 1928:

  • Pembukaan kongres oleh ketua panitia pusat, Sugondo Djojopuspito
  • Pembacaan laporan keuangan oleh bendahara panitia pusat, Amir Sjarifuddin
  • Pembacaan laporan propaganda oleh sekretaris panitia pusat, Johan Mohammad Cai
  • Pembacaan usul-usul dari organisasi peserta kongres
  • Pembentukan komisi-komisi untuk membahas usul-usul tersebut

Hari kedua, 28 Oktober 1928:

  • Pembacaan hasil kerja komisi-komisi oleh ketua-ketua komisi
  • Pembahasan dan pengesahan hasil kerja komisi-komisi oleh sidang pleno kongres
  • Penutupan kongres oleh ketua panitia pusat, Sugondo Djojopuspito

Salah satu hasil kerja komisi yang paling penting adalah komisi A yang membahas tentang persatuan bangsa Indonesia. Komisi ini dipimpin oleh Mohammad Yamin dan beranggotakan 9 orang, yaitu:

  • Mohammad Yamin (Jong Sumateranen Bond)
  • Johan Mohammad Cai (Jong Ambon)
  • Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
  • Soekarno (PNI)
  • Gatot Mangkupraja (PNI)
  • R.M. Soerachman Tjokroadisoerjo (Jong Java)
  • R.M. Soerjopranoto (Jong Java)
  • R.M. Suroso (Boedi Oetomo)
  • R.M. Suryokusumo (Boedi Oetomo)

Komisi ini berhasil menyusun sebuah ikrar yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Ikrar ini dibacakan secara bergantian oleh tiga orang perwakilan dari tiga golongan etnis terbesar di Indonesia, yaitu:

  • Melayu: Mohammad Yamin
  • Jawa: Soegondo Djojopuspito
  • Ambon: Johan Mohammad Cai

Ikrar ini disambut dengan meriah oleh seluruh peserta kongres dengan mengucapkan “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa”. Ikrar ini juga diiringi dengan nyanyian lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman.