Potensi apa yang membuat para pelajar melakukan tawuran​?

Tawuran adalah fenomena sosial yang sering terjadi di kalangan pelajar, khususnya di Indonesia. Tawuran adalah bentuk kekerasan fisik antara kelompok pelajar yang berasal dari sekolah, daerah, atau organisasi yang berbeda. Tawuran dapat menimbulkan korban jiwa, luka-luka, kerusakan fasilitas, dan gangguan ketertiban umum. Namun, mengapa tawuran masih terjadi di tengah-tengah masyarakat yang semakin modern dan beradab? Apa yang mendorong para pelajar untuk melakukan tawuran?

Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan potensi apa yang membuat para pelajar melakukan tawuran. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah:

  • Faktor identitas. Para pelajar ingin menunjukkan identitas mereka sebagai bagian dari suatu kelompok yang memiliki nilai, norma, dan simbol tertentu. Identitas ini dapat berupa nama sekolah, warna seragam, lambang, atau slogan. Dengan melakukan tawuran, para pelajar ingin membela dan mempertahankan identitas mereka dari ancaman kelompok lain yang dianggap sebagai musuh atau saingan.
  • Faktor solidaritas. Para pelajar ingin merasakan solidaritas dan kebersamaan dengan anggota kelompok mereka. Solidaritas ini dapat diperkuat dengan melakukan tawuran bersama-sama melawan kelompok lain. Tawuran juga dapat menjadi sarana untuk menguji loyalitas dan keberanian anggota kelompok. Dengan melakukan tawuran, para pelajar ingin mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari rekan-rekan sekelompok mereka.
  • Faktor emosi. Para pelajar sering mengalami tekanan dan stres akibat tuntutan akademik, keluarga, atau lingkungan sosial. Tawuran dapat menjadi cara untuk melepaskan emosi negatif seperti marah, benci, dendam, atau frustrasi. Dengan melakukan tawuran, para pelajar ingin melampiaskan emosi mereka pada kelompok lain yang dijadikan sebagai sasaran kemarahan.
  • Faktor budaya. Para pelajar terpengaruh oleh budaya populer yang mengagungkan kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah atau menunjukkan kekuatan. Budaya populer ini dapat berasal dari media massa seperti film, musik, atau game yang menampilkan adegan-adegan tawuran atau pertarungan. Dengan melakukan tawuran, para pelajar ingin meniru gaya hidup atau perilaku tokoh-tokoh idola mereka.

Dari faktor-faktor di atas, dapat disimpulkan bahwa tawuran adalah perilaku yang tidak rasional dan tidak produktif. Tawuran tidak hanya merugikan diri sendiri dan kelompoknya, tetapi juga merugikan masyarakat secara keseluruhan. Tawuran juga tidak sesuai dengan nilai-nilai pendidikan yang seharusnya ditanamkan kepada para pelajar sebagai generasi penerus bangsa.

Oleh karena itu, perlu ada upaya bersama untuk mencegah dan mengatasi tawuran di kalangan pelajar. Upaya tersebut dapat melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah, sekolah, orang tua, tokoh masyarakat, dan media massa. Upaya tersebut juga harus bersifat komprehensif dan berkelanjutan dengan mengedepankan pendekatan edukatif, preventif, dan korektif.

Pendekatan edukatif bertujuan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran kepada para pelajar tentang bahaya dan dampak negatif tawuran bagi diri sendiri, kelompoknya, dan masyarakat. Pendekatan ini dapat dilakukan melalui kurikulum pendidikan karakter, pembinaan mental spiritual, konseling psikologis, atau penyuluhan hukum.

Pendekatan preventif bertujuan untuk mencegah terjadinya tawuran dengan menciptakan lingkungan sekolah dan masyarakat yang kondusif dan harmonis. Pendekatan ini dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas pendidikan, fasilitas, dan sarana prasarana sekolah; penegakan disiplin dan aturan sekolah; pemberdayaan ekstrakurikuler dan organisasi kemasyarakatan; serta kerjasama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.

Pendekatan korektif bertujuan untuk mengatasi tawuran yang sudah terjadi dengan memberikan sanksi dan bantuan yang sesuai kepada para pelaku dan korban tawuran. Pendekatan ini dapat dilakukan melalui penegakan hukum yang tegas dan adil; rehabilitasi medis, psikologis, dan sosial bagi para pelaku dan korban tawuran; serta rekonsiliasi dan mediasi antara kelompok-kelompok yang bertikai.

Dengan melakukan upaya-upaya tersebut, diharapkan tawuran dapat diminimalisir atau dieliminir dari kehidupan para pelajar. Para pelajar harus menyadari bahwa tawuran bukanlah solusi, melainkan masalah. Para pelajar harus mengembangkan potensi-potensi positif mereka sebagai individu dan kelompok yang berprestasi, kreatif, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.